Diversifikasi Pangan Lokal: Pemanfaatan Ampas Kelapa Dari Rantai Produksi VCO Menjadi Tepung Kelapa Sebagai Bahan Baku Pangan Alternatif
DOI:
https://doi.org/10.62671/jp3l.v3i1.81Kata Kunci:
Diversifikasi pangan, pangan alternatif , ampas kelapa , tepung kelapa, cookies kelapaAbstrak
Pangan alternatif merupakan sarana penting dalam mewujudkan diversifikasi pangan. Diversifikasi pangan sendiri merupakan strategi kunci dalam meningkatkan ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat. Pemanfaatan hasil samping industri kelapa menjadi salah satu pendekatan yang dapat mendukung diversifikasi pangan lokal sekaligus meningkatkan nilai tambah produk. Salah satu limbah utama dari proses produksi Virgin Coconut Oil (VCO) adalah ampas kelapa (presscake) yang masih kaya serat pangan, protein, dan sejumlah komponen bioaktif. Program pengabdian ini dilaksanakan di Kecamatan Sukamakmue, Kota Sabang, di mana masyarakat telah memulai pengolahan kelapa menjadi VCO secara mandiri sebagai upaya menambah pendapatan rumah tangga. Namun, masyarakat belum mengetahui potensi pengolahan ampas kelapa sisa pemerasan santan menjadi tepung kelapa yang dapat dijadikan bahan baku pangan alternatif. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pemanfaatan ampas kelapa, mendorong diversifikasi produk pangan sehat, serta membuka peluang usaha baru berbasis kelapa. Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan melibatkan kelompok tani dan mitra usaha setempat melalui pelatihan teori dan praktik langsung. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pengetahuan serta keterampilan masyarakat, khususnya Kelompok Tani Ingin Jaya Kecamatan Sukamakmue, dalam mengolah ampas kelapa menjadi tepung kelapa dan produk diversifikasi pangan seperti cookies kelapa. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan mampu melakukan pengolahan secara mandiri, sehingga memunculkan ide usaha baru, meningkatkan nilai tambah hasil samping kelapa, serta membuka peluang lapangan kerja baru. Dengan demikian, pengolahan ampas kelapa menjadi tepung kelapa dan pengolahan tepung kelapa menajdi cookies kelapa terbukti mampu mendukung strategi diversifikasi pangan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan ketahanan pangan lokal
Referensi
Adeloye, J.B., Osho, H. and Idris, L.O. (2020) ‘Defatted coconut flour improved the bioactive components, dietary fibre, antioxidant and sensory properties of nixtamalized maize flour’, Journal of Agriculture and Food Research, 2, 100042. doi:10.1016/j.jafr.2020.100042.
Agustina, R., M. Yasar, T. Ferijal., S. Hartuti., & I. Zikri. (2024). Pengolahan Manisan Belimbing Wuluh Sebagai Upaya Diversifikasi Pangan Sehat. Jurnal Pengabdian Pembangunan Pertanian Dan Lingkungan, 1(2), 99–105.
Badan Pangan Nasional (NFA) (2025) Gerakan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA). Available at: https://badanpangan.go.id/wiki/gerakan-penganekaragaman-konsumsi-pangan-beragam-bergizi-seimbang-dan-aman-b2sa (Accessed: 4 September 2025).
Dini, R.Z. and Rustanti, N. (2014). Pengaruh substitusi tepung ampas kelapa terhadap nilai indeks glikemik, beban glikemik, dan tingkat kesukaan roti. Journal of Nutrition College, 3(1), pp. 213–221. Available at: https://doi.org/10.14710/jnc.v3i1.4599
FAOSTAT (2024) Countries by commodity — Coconut: production rankings (2022). Food and Agriculture Organization of the United Nations. Available at: https://www.fao.org/faostat/en/#rankings/countries_by_commodity (Accessed: 4 September 2025).
Polli, F.F. (2018). Pengaruh substitusi tepung kelapa terhadap kandungan gizi dan sifat organoleptik kue kering; the effect of coconut flour substitution on nutrient content and organoleptic properties of cookies. Buletin Palma, 18(2), p. 91. Available at: https://doi.org/10.21082/bp.v18n2.2017.91-98.
Sanatang, S. and Purnama, T. (2021). Pemanfaatan ampas kelapa sebagai tepung yang mempunyai serat tinggi untuk bahan baku pembuatan kue pencegahan konstipasi. Jurnal Pengabdian Saintek Mandala Waluya, 1(1), pp. 22–27. Available at: https://doi.org/10.54883/jpsmw.v1i1.144
Shakeela, H., Mohan, K. and Nisha, P. (2024) ‘Unlocking a nutritional treasure: health benefits and sustainable applications of spent coconut meal’, Sustainable Food Technology, 2, pp. 497–505. doi:10.1039/D3FB00247K
Sundaresan, T., Subramaniam, S., Chinnapa, V. and Rajoo, B. (2023) ‘Effect of defatted coconut flour on functional, nutritional, textural and sensory attributes of rice noodles’, International Journal of Food Science and Technology, 58(10), pp. 5077–5088. doi:10.1111/ijfs.16606.
Trinidad, T.P., Mallillin, A.C., Valdez, D.H., Loyola, A.S., Askali-Mercado, F.C., Castillo, J.C., Encabo, R.R., Masa, D.B., Maglaya, A.S. and Chua, M.T. (2006) ‘Dietary fiber from coconut flour: A functional food’, Innovative Food Science & Emerging Technologies, 7(4), pp. 309–317. doi:10.1016/j.ifset.2004.04.003.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Raida Agustina, Dinaroe, Elly Susanti, Diswandi Nurba, Khairul Anwar

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.





